Sabtu, 12 September 2009

Menata Hati

Demi Allah.. Dzat Yang Maha Menguasai Hati. Mungkin tidak cukup dalam setahun ini untuk menata hati. Ya, kita mengetahui bahwa hati ini selalu dibawa kemana pun kita pergi. Sadar atau tidak, ternyata hati inilah yang mengajak kita untuk berpikir lebih bijaksana. Atas segenap urusan yang merintangi perjalanan da’wah kita. Atas segenap cobaan yang memaksa kita untuk berhenti. Namun kesemuanya itu tuntas dengan kesucian hati. Bersyukurlah bahwa kita masih bisa menghadirkan suasana hati terbaik di setiap syuro yang kita lewati. Semoga Nashrullah yang senantiasa menyapa pemikiran-pemikiran kita merupakan buah dari kebeningan hati kita. Semoga berkah dari setiap agenda-agenda da’wah yang kita jalani adalah karena hati ini telah tertunaikan haknya, karena kita senantiasa berusaha untuk menjaga fitrahnya.

Sadarilah.. Pertolongan Allah itu membahagiakan dan ujian hidup yang kita lalui selalu menuai kesedihan demi kesedihan. Itulah dua keniscayaan yang akan datang silih berganti mendatangi bilik-bilik hati kita. Namun tidak bagi seorang mu’min yang teguh hatinya. Ia tetap bersahaja ketika kuntum bunga kebahagiaan itu datang, namun ia juga menggenapkan kesabarannya saat ujian demi ujian menghampirinya. Cukuplah kisah terdahulu menjadi pelajaran-pelajaran berharga yang semoga kecelakaan-kecelakan zaman tidak lagi terjadi di masa ini. Tentang suatu kaum yang menderita karena telah hadir cobaan dari Allah swt yang begitu dahsyatnya. Tentang suatu kaum yang berputus asa terhadap wabah kemiskinan dan kesengsaraan pada suatu masa, sehingga mereka lalai dan mencari pengharapan ke berhala-berhala yang sudah jelas kesesatannya. Tentang suatu kaum yang menunda-nunda memeluk agama ini, yang pada akhirnya peringatan demi peringatan Allah swt jatuhkan kepada kaum tersebut. Begitu menyedihkan.

Saudaraku.. Kejadian umat terdahulu adalah kisah nyata yang ibrohnya akan menasehati dan membersihkan hati kita. Adakah kita ingin mengulang kejadian demi kejadian seperti yang terjadi belasan bahkan puluhan abad yang lalu? Cukuplah itu semua terangkum dalam kitab yang sempurna, yang semoga setiap ayat di dalamnya menjadi peneguh hati kita, dimana siyasatud da’wah yang diajarkannya menjadi rujukan dalam menggencarkan strategi demi strategi, dimana di setiap bait Kalam-Nya yang indah itu kita bisa menemukan kesejukan demi kesejukan. Dengan kalimat-kalimat-Nya yang terbaik itu, mari sucikan hati kita wahai saudaraku. Tidak pantas bagi kita untuk menunaikan suatu perkara yang suci apabila hati ini masih terkotori oleh penyakit-penyakit hati. Tidakkah kita ingin agar Allah swt ridho terhadap sekecil apapun amal yang kita kerjakan? Atau yakinkah bahwa apa yang kita kerjakan selama ini penuh berkah Allah swt? Semoga sampai hari ini amal-amal tersebut mengalir penuh keikhlasan, tiada mengharap apapun kecuali ridho Allah swt semata. Karena keikhlasan adalah kepasrahan diri kepada-Nya yang akan menjadikan hati ini suci. Dan karena kesucian hati membawa keberkahan..

Akhirnya.. Tiada pengharapan lain kecuali keberkahan yang mendatangkan hikmah dan dikumpulkannya setiap jiwa bersama umat yang terjaga keshalihannya. Semoga lantunan do’a yang pernah dituturkan oleh Nabi Ibrahim as menjadi muara pengharapan kita:

Rabbi hablii hukmawwalhiqnii bishshoolihiin.. Ya Tuhan-ku, berikanlah kepadaku hikmah, dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih.. (QS Asy-Syu’ara:83)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar